Pages

Senin, 20 Maret 2017

Khilaf berawal dari rasa ingin tahu

Gue sering banget mendengar kata khilaf di kalangan para otaku cowok cewek. Sebagian besar dari mereka mengucapkan kata itu saat membeli suatu barang, sebuah berhala.

Menurut KBBI:

khilaf/khi·laf/ a keliru; salah (yang tidak disengaja);

kekhilafan/ke·khi·laf·an/ n kekeliruan; kesalahan yang tidak disengaja:

Jadi kalau mau disambungkan dengan ketika mereka membeli barang (mahal), maka barang-barang itu seharusnya sesuatu yang salah, yang keliru, yang seharusnya tidak dibeli.

Well, masuk akal. Misalnya lu beli artbook harga IDR 500k sementara lu makan sehari sekali aja sujud sukur. Itu duit dari mana? Maka lu bilang, "Khilaf gue."

Tapi apa iya ga DISENGAJA? XD

Sabtu, 25 Februari 2017

But there's something good in every day

Every day may not be good,
but there's something good in every day

Ada amin, saudara-saudara? Hahaha. Oke, gue selalu merasa ini salah satu quote yang paling ngena di hidup gue yang isinya cuma merajuk dan mengeluh aja. Selalu ada hal baik di hidup kita setiap hari.

Kemaren gue abis ngambil paspor, gue pulang hendak naik kereta di stasiun palmerah, setelah sebelumnya gue berdiri selalu di TJ. Pas gue nyampe di stasiun itu, gue pikir keretanya dah bentar lagi nih dateng. Ternyata apa? Dia masih baru menuju Tanah Abang sebelum ntar balik lagi arah ke Serpong.

KAMPRET SEKALI. GUE LELAH COY.

Saat gue lagi duduk dan ongkang-ongkang kaki, sambil liat batre HP yang dah makin menipis (makin keki deh), tiba-tiba lewat 2 bocah SD, masih pake seragam sekolah. Yang satu tampaknya orang Sumatera gitu (cowok), yang satu tampaknya dari Papua (cewek). 

Ngapain mereka?

Ow, mereka main gundu (kelereng).

Main gundu bareng?

Cewek cowok ini, dari suku yang beda?

Seketika itu gue langsung bilang, "Lucu banget sihhhhhhh...." sambil terpukau, dan nahan kebelet kencing (serius). Ngeliatnya adem ya, beda ma orang-orang dewasa (badannya doang) yang isinya cuma ributin agama sama suku hahahaha bocah ini cuma maen gundu aja asik.

Secara sekarang emang lagi panas banget masalah politik dan SARA, jadi gue merasa itu adalah hal terindah di hari itu, saat kaki gue super pegel dan gue kebelet kencing (dibahas lagi).

Surprisingly, pas gue turun di stasiun tujuan gue, gue melihat mereka lagi, dan tetap berdua akrab hahahaha. So pure, so cute. Ga ada yang terlahir rasis, lalu kenapa pas gede banyak yang berubah jadi rasis?

Apa something good yang terjadi di hidup kamu hari ini?

Have a nice day!

Sabtu, 28 Januari 2017

Perjalanan 8 Jam Bikin E-Paspor!

Bagi yang ga tau bedanya E-Paspor sama Paspor biasa, nanti akan dijelaskan di bawah (LAAAH). Pada dasarnya bedanya itu, E-Paspor pake chip, yang paspor enggak. Yah, sama kayak KTP dan E-KTP, Bos!

Jadi inilah perjalanan gue mencari kitab suci di selatan.

Kelengkapan berkas yang gue bawa (Gue single, udah kerja, kerja di jakarta, domisili tangsel)

1. E-KTP, basically ini termasuk syarat yang fatal banget, karena lu sebetulnya ga bisa punya E-Paspor kalau ga punya E-KTP. Well, karena banyak kasus E-KTP belom jadi karena blanko kosong, pihak Imigrasi (Jakarta Selatan) membolehkan membawa surat keterangan dari catatan sipil (sepertinya gitu, gue ga dengerin dengan jelas sih) Nanti difotokopi di kertas A4 dan jangan dipotong. JANGAN DIPOTONG.

2.  Fotokopi KK (bawa aslinya pas dateng)

3. Fotokopi akte lahir/ijasah/surat baptis (bawa aslinya pas dateng). Pilih salah satu aja, jadi kalo akte lahirnya ilang bawa ijasah aja, dari SD-SMA yang penting ada nama Bapak atau Ibu. Gue bawa akte lahir sama ijasah btw.

4. Fotokopi Paspor lama (bawa aslinya pas dateng) ini opsional. Kalo belom punya paspor sebelumnya ya ga bisa juga lah ya dibawa. Fotokopi halaman depan sama klo ada halaman buat penambahan nama atau keterangan lainnya di halaman terakhir.

Yah itu doang sih. KTP gue Jakarta walau gue tinggal di Tangsel. Gue dah kerja tapi gue ga bawa surat keterangan kerja karena emang ga ada di syarat, dan gue kerja di Jakarta juga, dan gue bukan disuruh kantor buat bikin paspor. Gue kurang paham untuk imigrasi yang lain ya, dan buat yang dari luar Jakarta gue ga paham juga surat tambahan apa yang diperlukan, kalo ga salah ada surat keterangan domisili, entahlah, coba tanya yang lain, jangan nanya gue.

Setelah browsing sana-sini gue juga dah tau kalo misalnya di Imigrasi Jakarta Selatan itu selalu ramai dan sebagian besar blog atau artikel yang gue baca itu menyarankan buat dateng sepagi mungkin buat menghindari hal-hal semacam: LAMA NUNGGU. (Update 31 Mei 2017) Denger-denger dah bisa "ambil" nomor antrean lewat aplikasi atau web mana gitu buat Imigrasi Jaksel (aja), coba aja gugel, bagus banget itu kalo bener, ga usah saingan ma maling perginya pagi buta.

Tapi apalah gue yang lemah terhadap bangun pagi dan ga seniat itu buat dateng jam 4 pagi, jadi gue baru berangkat itu jam 5 tepat, dari rumah gue di kawasan Tangerang Selatan ke Warung Buncit situ, Imigrasi Jakarta Selatan. Cukup 30 menit aja buat nyampe situ, thanks to my bro yang mungkin punya impian menggantikan si botak di Too Fast Too Furious.

Pikiran gue dateng ke situ adalah: "Yah gue mungkin ga dapet nomer awal, tapi gue yakin gue ga sesial itu nunggu lama banget."

Senin, 03 Oktober 2016

[Curhat] Naruto 72 versi Indonesia

Jadi kemaren-kemaren gue udah curhat soal Tokyo Ghoul versi Indo yang nyahahaha begitulah. Silakan cek post ini untuk membaca curhatan gue tentang komik TG.

Sekarang gue akan melanjutkan curhatan gue tentang salah satu komik yang sangat-sangat-sangat terkenal di Indonesia. Iya, Naruto. 

Gue adalah fans Naruto. Yah, gue akui dengan jujur. Bahkan gue pernah menuliskan post macam ini saat seri Naruto berakhir :p Dan ketika versi Indonesia-nya diterbitkan di sini, gue pun sejujurnya cukup sedih, walau di satu sisi juga cukup senang karena cerita yang makin tidak jelas ini diakhiri. Tentu saja gue pun bersemangat untuk mengoleksi volume terakhirnya, gue menganggapnya sebagai sebuah tugas terakhir gue sebagai fans Naruto.

Terakhir bakal gue foto secara keseluruhan, volume 1-72 (lengkap kap kap) dan mungkin memamerkannya pada temen-temen gue di media sosial.

ITU HARAPAN GUE.

Kenyataannya, terdengar kabar dari para fans yang udah beli duluan kalau.... KALAU ADA HALAMAN YANG HILANG.

Ya! Halaman yang hilang. Bukan rusak, bukan ketuker, bukan kena sensor. HILANG.

Bukan hanya 1 halaman, TAPI 3 HALAMAN SEKALIGUS. (Update Mei 2017-->akhirnya udah dibenerin sama penerbit --di bawah gue jelasin, tp gue ga berniat hapus postingan ini jadi ya sudah wwww)

OOOOHH SHEET! OHHHH SHEET! WAT THE FISH! WAD ON EEEARRTTTHHH. DEMI GELEDEK SAMBEL TERASIIII. 3 halaman, Mas!

Karena berita tersebut gue menghentikan rencana gue membeli Naruto volume terakhir.

Sebulan lewat, gue belum mengetahui apa yang sudah dilakukan sang penerbit (Elex) buat memperbaiki 3 halaman itu. Dan akhirnya kesabaran gue hilang di sekitar bulan Agustus, gue pun membeli komik Naruto volume 72 itu untuk melihat 'sebusuk apa sih kesalahannya'

Dan, here we go! (Ini perbandingan dengan versi Inggris yang gue beli setelah gue beli versi Indonesianya karena udah ga sanggup menunggu solusi dari sang penerbit yang tak kunjung hadir---iya anaknya ga sabaran banget)

Kiri: English ver. Kanan: Indonesian ver.
Yah emang versi Inggris selalu lebih gede.

LANJUT KE BAGIAN AKHIR KARENA INILAH POKOK PERMASALAHANNYA
  (WARNING, SPOILER ALERT)